Tuesday, December 17, 2013

Merunut Akar Konflik Sunni Syiah

IPABIonline.com - Perlu memahami sejarah dan geografi negara-negara timur tengah. Pahami sejarah pergulatan pemikiran internal masing-masing mazhab Sunni maupun Syiah. Pergulatan antar mazhab dan antar kerajaan. Internal Syi’ah sendiri terjadi pergulatan pemikiran antara Syi’ah Ali dan Syi’ah Shafawi. Antara Syi’ah Ushuli dan Syi’ah Akhbari.


Kita juga harus menelaah dengan teliti sejarah modern negara-negara Sunni (Turki, Saudi, Sudan, dan lain-lain), dan Syi’ah (Iran, Iraq, dan Bahrain).

Iran di masa Shah Iran merupakan anak emas Amerika dan mempunyai hubungan mesra dengan Saudi dan Israel sebagai sesama anak emas. Masa-masa itu tidak ada isu Sunni Syiah. Padahal kedua mazhab ini sudah ada sejak seribuan tahun yang lalu.

Revolusi Islam Iran merubah konstelasi keseimbangan kekuatan. Revolusi menjungkirbalikkan keadaan. Iran berubah jadi anti Amerika. Hubungan diplomatik putus dengan Amerika dan Israel. Kantor kedutaan Israel diambil alih dan diberikan ke Palestina di bawah Yasser Arafat yang sebelumnya tidak punya hubungan diplomatik dengan Iran di bawah Syah. Kantor kedubes Amerika diduduki oleh mahasiswa militan Iran dan mereka berhasil menyita ribuan halaman dokumen rahasia yang berisi jaringan dan aktifitas Amerika di seluruh dunia dan khususnya kejahatan intelijen AS di dalam negeri Iran. Terjadi krisis penyanderaan diplomat.

Amerika di bawah Presiden Jimmy Carter melakukan operasi penyelamatan sandera menyerang Iran dengan operasi bersandi “Operation Evening Light” bagian dari proyek “Blue Light” tapi gagal dan mempermalukan reputasi Amerika di dalam dan di luar negeri. Amerika lalu merubah strategi a.l. --secara langsung maupun tidak langsung-- mendukung kelompok teroris domestik Iran Mujahidin Halq dan Furqon (kelompok sosialis marxis yang menyalahgunakan Al-Qur'an dan ajaran Islam sebagai argumen pembenaran ideologi mereka), melakukan berbagai tindakan teroris dan 'Political Assassination' terhadap tokoh-tokoh Revolusi Islam Iran seperti Bahonar, Bahesti, Murthadha Muthahhari, dan lain-lain. Gedung parlemen Iran dibom dan menyebabkan jatuhnya banyak korban. Ali Khamenei pun dirancang untuk dibunuh dengan menaruh bom di mimbar khutbah beliau yang kemudian meledak dan melukai beliau dan membuatnya cacat kehilangan lengan kanannya.

Iran dikucilkan, diembargo, dana yang berjumlah milyaran dollar yang tersimpan di berbagai lembaga keuangan AS dibekukan. Irak yang selama ini merupakan ancaman bagi negara-negara Arab tetangganya karena ideologi sosialis Bath-nya yang dilindungi oleh Uni Soviet kemudian diprovokasi untuk menyerang menginvasi Iran. Maka terjadilah perang yang dipaksakan atas Iran (1980-1988). Dimana Irak menikmati dukungan dana dan persenjataan dari hampir semua negara Barat (Amerika, Eropa dan Uni Soviet) dan Arab, minus Suriah.

Sejak pecahnya perang Irak-Iran itulah isu Sunni-Syiah mulai digulirkan untuk mengesankan bahwa Iran itu bukan Islam, walau pun jelas-jelas Iran adalah anggota OKI, Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Dunia), IDB (Islamic Development Bank), dan berbagai organisasi kerjasama Islam lainnya. Ulama-ulama Islam di Indonesia sempat menyambut revolusi Islam Iran sebagai permulaan dari era kebangkitan Islam yang dinanti-nantikan. Namun isu ekspor Revolusi Islam Iran membuat banyak pemerintah dunia Islam jadi was-was, termasuk Indonesia dan negara-negara monarki Arab. Tidak dipungkiri bahwa di kalangan anak muda Islam di Indonesia terjadi demam Revolusi Iran, banyak di antara mereka yang mengimpikan terjadi revolusi yang sama di negeri mereka, tanpa pemahaman yang benar, padahal latar belakang tradisi dan budaya serta situasi sama sekali jauh berbeda. Di pihak Iran pun memang ada pihak-pihak yang sangat bersemangat untuk mengekspor revolusi mereka. Saya sempat terlibat dalam debat yang sengit dengan mereka yang berpikir bahwa ekspor-impor revolusi itu mungkin bahkan harus dilakukan. Saya berada di pihak menolak ide tersebut, namun agen intelijen Indonesia (saat itu) menuduh saya sebaliknya.

Maka dimulailah upaya untuk membendung pengaruh Iran dengan mengangkat Isu Sunni-Syiah yang disponsori terutama oleh Arab Saudi melalui Maktab Agamanya di seluruh dunia khususnya di Indonesia dengan mencetak jutaan eksemplar buku-buku yang mendiskreditkan Syiah dengan berbagai tuduhan fitnah. Mereka mendekati institusi keagamaan tertentu dan tokoh-tokoh ulama tertentu untuk mendukung misi ini. Milyaran riyal Saudi dialirkan untuk “membeli” ulama tertentu, membentuk dan mengakuisisi lembaga-lembaga Islam tertentu yang mendukung misi tersebut dan mengakuisisi ormas-ormas Islam yang sudah mempunyai akar dan nama di masyarakat Islam Indonesia.

Mereka juga mengirim sejumlah ulama ke Indonesia untuk menyebarkan bahaya dan kesesatan bahkan kekafiran Syiah, padahal mereka (Saudi Arabia) menikmati uang milyaran dollar dari jutaan jemaah haji dan umrah Syiah di seluruh dunia yang datang berhaji dan umroh ke Makkah dan Madinah setiap tahun.

Bahwa jutaan jamaah Syiah dari berbagai negara dan kebangsaan meramaikan ritual umrah maupun haji di kedua tanah Suci. Bahwa negara-negara yang berpenduduk mayoritas Syiah seperti Iran, Irak, dan Bahrain adalah anggota OKI, Rabithah Alam Islam, dan Islamic Development Bank, dan lain-lain. Semua fakta ini sengaja diabaikan demi kepentingan politik duniawi yang rakus dan kejam. Agama jadi alat pembenaran untuk pembunuhan dan peperangan. Berbagai isu dan fitnah direkayasa dan dipublikasikan.

Tiga puluh empat tahun Iran mengalami pengucilan, blokade dan embargo, perang yang dipaksakan dan berbagai sanksi. Ternyata ini semua tidak melemahkan Iran bahkan Iran menjadi salah satu negara yang mencatat percepatan pertumbuhan sains dan teknologi yang tertinggi di dunia. Ini mengkhawatirkan musuh-musuh Iran khususnya Israel, dan sekutu-sekutunya. Maka direkayasalah isu baru yaitu isu senjata nuklir yang mana sudah berulangkali ditegaskan oleh pihak Iran bahwa proyek nuklirnya adalah untuk tujuan damai. Bahwa senjata nuklir dan pemusnah massal lainnya adalah haram menurut fatwa para ulama Iran. Pihak Barat tidak percaya dan terus menekan Iran dengan berbagai sanksi ekonomi yang lebih berat.

Saat ini perang urat syaraf tetap berlanjut dan ancaman serangan militer semakin massif. Israel dan Saudi kecewa dengann adanya perubahan dalam sikap presiden Obama terhadap perubahan kebijakan Iran di bawah Presiden Iran yang baru Hassan Rouhani, dimana langkah perundingan dihidupkan kembali. Kelompok ini bekerjasama untuk menyabot perundingan nuklir Iran dan memprovokasi dunia untuk melakukan tindakan militer setelah berbagai sanksi untuk melumpuhkan ekonomi Iran. Berbagai upaya telah dilakukan dengan memanfaatkan DK PBB.

Harapan Israel dan Oknum pejabat tinggi Saudi (dalam hal ini, terutama pihak Bandar bin Sultan yang bertindak sendiri tanpa kordinasi dengan Raja Abdullah) untuk segera menggempur Iran secara militer menjadi pupus. Saudi (Bandar bin Sultan) menunjukkan kekecewaannya antara lain dengan menolak kursi anggota Dewan Keamanan PBB. Bandar dijadikan pintu masuk Israel untuk mengobok-obok dunia Islam mulai langsung dari jantungnya Mekkah dan Madinah. Bencana Perang saudara pun membayangi Saudi, biasanya untuk menyatukan pihak-pihak yang bertikai dibuatkan musuh bersama dari luar, dalam hal ini, Iran sangat tepat untuk dijadikan sasaran bersama.

Untuk memuluskan rencana aksi militer dan untuk mengantisipasi reaksi kesetiakawanan yang muncul dari dunia Islam maka soft war yaitu perang disinformasi terhadap mazhab Syiah dengan berbagai rekayasa fitnah adu domba terus menerus ditingkatkan. Baik kalangan Syiah maupun Sunni disusupi agen yang melakukan misi penyesatan melalui dunia maya dan media online serta televisi dan buku-buku yang memecah belah, sedang secara fisik direkayasa pemboman ke masing-masing pihak dengan teknik adu domba sambil memanfaatkan orang-orang yang lemah dan bodoh dari masing-masing pihak untuk memicu kemarahan, kekerasan dan melahirkan rantai balas dendam dan lingkaran setan yang tidak berujung.

Selain itu metode proxy war pun diterapkan dengan mendukung dan memfasilitasi kelompok garis keras, teroris dan ekstrimis Islam seperti al-Qaida dan kawan-kawan untuk diadu dengan sesama Islam. Ini strategi bermata dua, ke dalam merusak kerukunan dan kesatuan umat, ke luar merusak citra Islam sebagai agama kekerasan, kejam, dan anti damai. Ini memuluskan proyek stigmatisasi Islam sebagai agama teror. Sebagaimana yang dipertontonkan saat ini di Suriah, Irak, Libya, Somali, Pakistan, Afganistan, dan lainnya.

Bangsa Indonesia harus waspada dan cermat kritis atas perkembangan dunia yang sedang berlangsung. Masalahnya fulusiologi. Faqir (Kemiskinan) itu mendekatkan kepada Kufr (Kekafiran). Fulus bikin semua mulus. Pseudo Fatwa pun dikeluarkan demi fulus. Nilai samhah (toleran) dalam Islam pun diinjak-injak. Milyaran riyal telah menyumpal oknum ulama dan aparat pemerintah Indonesia. Lumayan membuat ekonomi untuk sementara bisa bertahan. Tapi waspadalah, karena dampaknya yang merusak dan menghancurkan semua capaian ekonomi kita dalam waktu singkat.

Intoleransi dan kekerasan atas nama agama adalah musuh kemanusiaan.

No comments:

Post a Comment